Bagaimana Global Mangrove Watch Memberdayakan Tindakan Lokal di Indonesia
- Mar 12
- 4 min read
Ketika memikirkan konservasi mangrove, yang terbayang mungkin akar berlumpur, sungai berkelok, dan sepatu bot lapangan—bukan dasbor satelit. Namun bagi cabang Indonesia dari Global Mangrove Alliance (GMA), upaya melindungi ekosistem ini justru dimulai dari piksel dan lapisan data.
Bersama-sama, organisasi yang terlibat berkontribusi untuk memperluas skala konservasi dan restorasi mangrove di Indonesia. Peluang tersebut dirangkum dalam laporan Mobilizing the Mangrove Breakthrough in Indonesia.
Indonesia memiliki ekosistem mangrove terbesar dan paling beragam di dunia. Dengan luas mencapai 2,95 juta hektare, kawasan ini mencakup lebih dari 20% mangrove dunia yang masih tersisa. Walaupun sebagian wilayah masih relatif utuh, mangrove di daerah berpenduduk padat seperti Jawa dan Bali telah mengalami degradasi berat.

Sebagai negara kepulauan, mangrove menyediakan jasa ekosistem yang sangat penting, termasuk perlindungan pesisir, penyerapan karbon, mata pencaharian, serta dukungan bagi perikanan dan kehidupan pesisir serta laut lainnya. Semua ini berkontribusi langsung terhadap kesejahteraan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Secara historis, ekosistem ini mendukung industri utama seperti perikanan, akuakultur, dan pariwisata. Namun, lebih dari separuh hutan mangrove Indonesia telah mengalami degradasi. Alih fungsi lahan mangrove untuk pertanian dan tambak, perkebunan kehutanan, aktivitas industri, serta perluasan perkotaan telah menimbulkan biaya ekologis yang besar. Deforestasi dan degradasi mangrove secara luas telah sangat melemahkan kemampuan ekosistem ini dalam menyediakan jasa, sehingga mengancam integritas ekologis sekaligus manfaat ekonomi dan sosial yang signifikan.
Sebanyak 60% penduduk Indonesia tinggal di wilayah pesisir, dan diperkirakan mangrove menyumbang sekitar USD 1,5 miliar per tahun bagi perekonomian Indonesia hanya dari sektor perikanan. Hal ini menjadikan konservasi dan restorasi mangrove sebagai hal yang sangat krusial. Untungnya, rehabilitasi mangrove telah menjadi prioritas nasional, dan organisasi yang bekerja secara kolaboratif—seperti Global Mangrove Alliance—telah membuat kemajuan yang signifikan.

Namun, perlindungan mangrove yang efektif memerlukan data spasial yang akurat dan mutakhir untuk memprioritaskan tindakan dan memantau kemajuan. Di sinilah Global Mangrove Watch (GMW) berperan. Sebuah platform online yang menyediakan data penginderaan jauh dan berbagai perangkat pemantauan mangrove yang diperlukan untuk upaya ini. Platform ini memberikan akses universal terhadap informasi hampir waktu nyata mengenai lokasi dan perubahan mangrove di seluruh dunia.
Mangrove Watch: pemantauan hampir waktu nyata di ujung jari
Bagi Topik Hidayat, Analis Blue Carbon di The Nature Conservancy (TNC) Indonesia: Yayasan Konservasi Alam Nusantara, Global Mangrove Watch telah mengubah cara timnya mengidentifikasi ancaman maupun peluang.
“Kami menganalisis potensi restorasi mangrove dan tren deforestasi dari tahun ke tahun,” jelasnya. “Salah satu fitur platform yang banyak digunakan untuk patroli oleh masyarakat adalah Mangrove Loss Alerts. Fitur ini mendeteksi secara waktu nyata area yang mengalami kehilangan mangrove signifikan, dan kami dapat memverifikasi peringatan tersebut langsung di lapangan.”
Tim Topik telah melatih masyarakat lokal di beberapa lokasi untuk menafsirkan dan menindaklanjuti peringatan tersebut, termasuk di Bengkalis (Provinsi Riau), Ogan Komering Ilir (Sumatera Selatan), Berau (Kalimantan Timur), dan Bangka (Provinsi Kepulauan Bangka Belitung).

Data yang sama juga mendukung pekerjaan berskala nasional. “Kami juga menggunakan fitur blue carbon dari Global Mangrove Watch untuk studi kelayakan,” tambah Topik. “Kombinasi dari berbagai lapisan dalam alat ini membantu kami menilai lokasi mana yang berpotensi untuk proyek karbon di seluruh Indonesia.”
Aji Nuralam, Petugas Teknis Rehabilitasi di Wetlands International Indonesia, menambahkan: “Saat ini, kami menggunakan Global Mangrove Watch terutama untuk penilaian awal—untuk mengidentifikasi di mana rehabilitasi dan perlindungan harus dilakukan. Setelah itu, kami memverifikasi data tersebut menggunakan pengukuran lokal dan masukan masyarakat.”
Beberapa anggota Global Mangrove Alliance Indonesia masih mengingat bagaimana proses pemantauan dilakukan sebelum adanya Global Mangrove Watch.
Muhammad Miftahul Bayyan, Spesialis Penginderaan Jauh di TNC Indonesia, mengenang proses yang melelahkan tersebut: “Dulu kami harus mengunduh data satelit secara manual dari Google Earth Engine dan sumber lainnya, tahun demi tahun, lalu menganalisisnya sendiri. Butuh waktu lama untuk membandingkan dengan data sebelumnya. Namun dengan Global Mangrove Watch, kami dapat dengan mudah melihat tingkat deforestasi dari tahun 1990 hingga sekarang. Jauh lebih cepat untuk menggunakannya bersama kumpulan data nasional dalam menganalisis tutupan mangrove.”
Arsen Makomi, Analis GIS dan Data di Konservasi Indonesia (Conservation International), menambahkan bahwa Global Mangrove Watch membuat analisis karbon menjadi lebih konsisten: “Sebelumnya, kami harus mengompilasi data biomassa mangrove dan karbon tanah dari berbagai sumber. Sekarang kami dapat menggunakan kumpulan data global yang konsisten. Hal ini sangat membantu untuk pemantauan dan studi pendahuluan.”
Meskipun Global Mangrove Watch telah sangat mendukung pekerjaan mereka, para praktisi mangrove di Indonesia juga memiliki gagasan untuk membuatnya lebih efektif.
Topik berharap ada versi seluler dan offline yang dapat digunakan masyarakat di lapangan.
“Kami sering menggabungkan Global Mangrove Watch dengan Global Forest Watch, yang dapat digunakan secara offline melalui aplikasi seluler,” ia menjelaskan. “Jika Global Mangrove Watch memiliki fitur tersebut juga, dampaknya akan sangat besar.”
Selain itu, ia dan Aji menggunakan Mangrove Restoration Tracker Tool, tetapi berharap ada perbaikan dalam terminologi yang digunakan serta kemampuan pelacakan data pemantauan secara berkala. “Saat ini, lapisan potensi restorasi masih berskala cukup luas,” ujar Aji. “Jika bisa diperinci hingga tingkat lokasi spesifik, itu akan sangat membantu dalam perencanaan proyek secara lebih presisi.” Hal ini penting karena pemerintah Indonesia sangat ingin mengetahui area mana yang memiliki potensi restorasi.
Arsen menambahkan satu harapan terakhir: “Akan sangat baik jika lebih banyak data dapat diunduh untuk analisis GIS yang lebih mendalam.”
Di tengah berbagai tantangan lapangan, antusiasme mereka terhadap Global Mangrove Watch sangat jelas. Bersama-sama, mereka belajar menggabungkan data global dengan pengetahuan
