Peluncuran Laporan Kesiapan Regional
- Global Mangrove Alliance

- Mar 12
- 3 min read
New York, 22 September 2025—Di tengah meningkatnya ancaman iklim dan percepatan hilangnya keanekaragaman hayati, serangkaian laporan baru yang dirilis hari ini dalam rangka New York Climate Week menyoroti bagaimana negara-negara di Asia, Amerika, dan Afrika Barat dapat mengatasi hilangnya mangrove secara cepat—ekosistem penting yang berperan krusial dalam adaptasi dan ketahanan iklim, tetapi kini menyusut pada tingkat yang mengkhawatirkan.
Disusun oleh Global Mangrove Alliance dan Mangrove Breakthrough, Laporan Kesiapan Regional ini memetakan tren dan ancaman regional, sekaligus potensi konservasi dan restorasi, serta menunjukkan dampak luasnya terhadap iklim, keanekaragaman hayati, dan pembangunan berkelanjutan di negara-negara dengan tutupan mangrove tinggi.
“Laporan ini menjawab pertanyaan krusial mengenai di mana dan bagaimana kita dapat mempercepat tindakan penyelamatan mangrove dengan cara yang paling efektif,” ujar Irene Kingma dari Wetlands International. “Laporan ini mengarahkan para penyandang dana dan pengambil kebijakan menuju peluang, lokasi, serta mitra yang siap untuk bergerak.”
Mangrove menyimpan hingga empat kali lebih banyak karbon dibandingkan hutan hujan tropis, melindungi masyarakat pesisir dari kenaikan muka laut dan badai, serta menyediakan habitat penting bagi lebih dari 340 spesies terancam. Namun, lebih dari 50% luasan aslinya telah hilang, dan upaya konservasi serta restorasi masih sangat kekurangan pendanaan.
Untuk menutup kesenjangan ini, para mitra Mangrove Breakthrough memobilisasi pendanaan sebesar 4 miliar dolar AS dari sumber publik, swasta, dan filantropi guna menghentikan kehilangan mangrove, merestorasi separuh mangrove yang terdegradasi, serta menggandakan perlindungannya pada tahun 2030. Laporan Regional ini menerjemahkan Peta Jalan Pendanaan menjadi peluang investasi nyata berdampak tinggi di tiga kawasan prioritas tersebut.
“Laporan Kesiapan Regional merupakan cetak biru untuk membantu donor, lembaga keuangan, pemerintah, dan LSM menyelaraskan sumber daya serta komitmen mereka—mendorong Mangrove Breakthrough memasuki fase berikutnya, menggerakkan perubahan sistemik di wilayah sasaran, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat pesisir terdepan serta ekosistemnya.” ujar Ignace Beguin, Direktur Mangrove Breakthrough.


Kawasan dan negara kritis untuk mencapai target Mangrove Breakthrough
Laporan ini menyoroti kawasan dan negara yang memiliki potensi restorasi besar atau peluang untuk meningkatkan kawasan lindung mangrove. Asia merupakan rumah bagi sekitar 40% mangrove dunia yang tersisa. Dengan 3.927 km² mangrove yang dapat direstorasi, kawasan ini dapat menyumbang hampir setengah (47%) dari target restorasi global Mangrove Breakthrough. Sekitar 27% mangrove di Asia telah berada di bawah bentuk perlindungan formal. Karena luas mangrove Indonesia sangat signifikan secara global, menggandakan tingkat perlindungan di Indonesia saja akan memenuhi lebih dari setengah target regional Mangrove Breakthrough. Di seluruh Asia, konversi hutan mangrove menjadi tambak udang dan perkebunan pertanian merupakan pendorong utama kehilangan mangrove, sementara penyelesaian persoalan tenurial lahan menjadi hambatan paling umum dalam implementasi yang efektif.
Kawasan Amerika menampung hampir 28% mangrove dunia dan memiliki potensi restorasi yang sangat besar, dengan hampir 1.800 km² mangrove yang dapat direstorasi (22% dari target global), khususnya di Meksiko, Brasil, dan Kolombia. Namun, upaya restorasi sering terhambat oleh sengketa lahan dan kurangnya pendanaan. Meskipun sekitar 70% mangrove telah berada dalam perlindungan formal, pengelolaan yang efektif dan memadai di tingkat lanskap sangat penting agar perlindungan tersebut menghasilkan dampak nyata.
Afrika Barat memiliki kawasan mangrove terbesar ketiga di dunia, yang sangat vital bagi pangan, bahan bakar, dan perlindungan pesisir. Laporan Kesiapan Regional menunjukkan kawasan ini memiliki 14% potensi restorasi global serta kebutuhan mendesak untuk memperluas perlindungan. Sembilan dari dua belas negara telah mengakui mangrove dalam komitmen mereka di bawah Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global, menunjukkan kemauan politik yang kuat untuk memastikan mangrove di kawasan tersebut tetap dalam kondisi sehat. Namun, kawasan ini juga termasuk wilayah dengan tingkat pembangunan terendah di dunia dan menghadapi tantangan kemiskinan yang besar. Oleh karena itu, strategi konservasi perlu berfokus pada peningkatan mata pencaharian sebagai bagian dari pendekatan menyeluruh.
Mengatasi hambatan berulang untuk peningkatan skala
Untuk mengatasi hambatan yang membatasi skalabilitas dan keberlanjutan jangka panjang intervensi, laporan ini mengidentifikasi empat faktor pendukung utama: memobilisasi kemitraan mangrove, mengembangkan dan menginkubasi pendanaan serta investasi, memperkuat kebijakan dan tata kelola, serta membangun pengetahuan dan kapasitas lokal.
Untuk negara-negara berdampak tinggi, laporan ini juga merangkum kebijakan positif mangrove yang telah ada, struktur tata kelola, mekanisme pembiayaan, dan kemitraan yang tersedia, serta mengidentifikasi titik intervensi di mana dukungan dan investasi dapat memberikan dampak terbesar.
Laporan Regional Mobilizing the Mangrove Breakthrough dan Ringkasan Negara untuk Indonesia dapat diunduh di sini. Laporan Regional Afrika Barat akan segera tersedia; Ringkasan Negara tambahan untuk Asia, kawasan Amerika, dan Afrika Barat akan ditambahkan sebelum COP30 dilaksanakan.
Target regional Mangrove Breakthrough untuk Menghentikan Kehilangan, Merestorasi Separuh, dan Menggandakan Perlindungan Mangrove dalam masing-masing Laporan Regional didasarkan pada data spasial dari Global Mangrove Watch. Untuk mempelajari lebih lanjut, baca siaran pers ini.
Laporan ini dikembangkan dengan dukungan dari Bezos Earth Fund.
